Fast Fashion
Begitu baca judulnya, beberapa ada yang langsung mikir, ini pasti lagi ngebahas koleksi terbaru fashion brand tertentu, atau trend fashion apa yang sedang 'in' di tengah masyarakat. Yup, pertama kali diberi tahu topik ini oleh adik bungsuku, langsung mikir seperti pemikiran diatas. Beruntung jaman sudah semakin canggih dan semua orang dengan mudahnya bisa akses informasi dari internet, kayanya saya sebagai orang awam mulai nangkep nih maksudnya, dan kaget ternyata inilah yang selama ini mengganjal banget dipikiran.
Nah tanpa basa basi lagi, saya coba bahas sedikit info mengenai konsep fast fashion ini sebenernya apasih.
Fast Fashion ini sendiri adalah suatu konsep dimana industri fashion (mencakup pakaian, sepatu, tas, dll) menghadirkan pakaian ready to wear dengan konsep pergantian mode yang cepat dalam kurun waktu tertentu.
Sebagai contoh, dalam kurun waktu satu tahun, sebuah trend mode berubah-ubah tidak hanya berganti sesuai musim, tetapi bahkan bisa berganti setiap bulannya.
kebayang yah misal per 3 bulan, merk A menghasilkan 15 sku pakaian wanita, 10 sku pakaian pria, 20sku pakaian anak, belum lagi aksesorisnya seperti topi, kaous kaki, dll. Berarti dalam 1 tahun kalau mereka konsisten dengan jumlah sku seperti diatas, produsen merk A minimal akan menghasilkan 180sku diluar aksesoris item. Daaaannn seperti yang kita tau, 1sku sendiri sudah jelas menghasilkan ratusan bahkan ribuan pakaian, not to mention sizing nya.
Terus kenapa? kan memang trend fashion bejalan begitu cepat itu wajar?.
Seiring terus berjalannya konsep fast fashion ini, para produsen tidak lagi memikirkan dampak lingkungan, kualitas material produk yang baik, dan yang terburuk adalah tentang jaminan pekerjanya.
Beberapa wilayah yang selalu menjadi tempat produksi lini fashion dengan konsep fast fashion adalah negara-negara berkembang dengan tingkat kesejahteraan dibawah rata-rata. Tidak hanya itu, beberapa pekerja yang digunakan bahkan sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak dalam usia produktif, yang sebenarnya sangat disayangkan karena pada usia tersebut, anak-anak seharusnya lebih produktif daripada mengerjakan pekerjaan monoton selama lebih dari 12jam per hari dan diberi upah yang sangat tidak manusiawi. Belum lagi paparan zat kimia secara langsung pada tubuh mereka.
Dari segi lingkungan, diketahui untuk membuat 1kg katun yang dibutuhkan dalam pembuatan tekstil, diperlukan setidaknya 20.000liter air. Belum lagi penggunaan zat kimia polutan dalam proses pewarnaan dan sebagainya. Dan yang lebih mencengangkan, kita setiap tahun nya tidak sadar bahwa selain sampah yang kita hasilkan dari sektor makanan dan minuman, ternyata pakaian bekas yang kita miliki turut serta menyumbang sampah baru yang tentunya tidak sedikit.
Beberapa teman yang saya ajak diskusi perihal masalah ini, respon nya tentu beragam. sebagian besar dari kita tentu berpikir "ah kan saya ga terlalu ngikutin fashion, baju saya cuma kaos-kaos aja kok".
tapi kalau kita tarik lagi ke belakang, di lemari baju kita sebenernya punya kaos berapa pcs sih? 2,5,10? belum lagi tangan panjang atau pendek, bahan tipis atau tebal, yang kusam atau masih baru. dari jumlah tersebut, berapa banyak sih yang sesungguhnya kita pakai sehari-hari? berapa banyak pakaian yang kita beli hanya karena sale tapi ternyata ga cocok sama kita, atau bahan nya ternyata gampang sobek, gerah. apakah hanya 1 pakaian?. hasilnya kalau untuk saya pribadi yang koleksi bajunya "hanya" berwarna coklat, hitam, putih dan abu-abu ternyata bikin kaget.
Bukan hanya sekedar baju itu animal cruel free, atau bermerek dagang terkemuka, tapi sebagian besar bahannya bahkan tidak nyaman dipakai bahkan mudah sekali rusak sehingga lama waktu pemakaian pakaian tersebut tergolong cukup singkat.
Beberapa pekan lalu saya sempat mengadakan QnA di instagram saya mengenai fast fashion ini. Ada yang menarik perhatian saya salah satunya pertanyaan "ini bisa mematikan fashion designer atau product designer dalam berkarya dong", atau "Yah mau bagaimana lagi, daripada pabriknya tutup dan orang-orang menjadi pengangguran dan dapat membuat tingkat kriminal naik"
Tentunya diharapkan dengan adanya kita sebagai kaum awam yang sudah melek tentang side effect nya fast fashion, para product designer/fashion designer (atau produsen lini fashion utamanya) akan tergerak mengikuti pasar konsumen yang sudah mulai beralih ke product yang lebih sustainable/ethical fashion. Jadi bukan serta merta pabriknya harus ditutup yah, hehe. tapi lebih ke merubah konsep yang sudah ada menjadi konsep baru yang lebih reliable.
Paling tidak yang kita butuhkan sekarang adalah "melek" dulu aja bahwa konsep produksi seperti ini yang mau tidak mau, ada kita yang turut andil menikmatinya. Mau sampai kapan? itu tergantung kita sebagai konsumen menyikapinya.
akhir kata, jika kita tidak dapat berbuat lebih untuk mengubah dunia, paling tidak lakukan hal sederhana untuk mengubah diri kita.
Spread love, not hate 😊
Nah tanpa basa basi lagi, saya coba bahas sedikit info mengenai konsep fast fashion ini sebenernya apasih.
Fast Fashion ini sendiri adalah suatu konsep dimana industri fashion (mencakup pakaian, sepatu, tas, dll) menghadirkan pakaian ready to wear dengan konsep pergantian mode yang cepat dalam kurun waktu tertentu.
Sebagai contoh, dalam kurun waktu satu tahun, sebuah trend mode berubah-ubah tidak hanya berganti sesuai musim, tetapi bahkan bisa berganti setiap bulannya.
kebayang yah misal per 3 bulan, merk A menghasilkan 15 sku pakaian wanita, 10 sku pakaian pria, 20sku pakaian anak, belum lagi aksesorisnya seperti topi, kaous kaki, dll. Berarti dalam 1 tahun kalau mereka konsisten dengan jumlah sku seperti diatas, produsen merk A minimal akan menghasilkan 180sku diluar aksesoris item. Daaaannn seperti yang kita tau, 1sku sendiri sudah jelas menghasilkan ratusan bahkan ribuan pakaian, not to mention sizing nya.
Terus kenapa? kan memang trend fashion bejalan begitu cepat itu wajar?.
Seiring terus berjalannya konsep fast fashion ini, para produsen tidak lagi memikirkan dampak lingkungan, kualitas material produk yang baik, dan yang terburuk adalah tentang jaminan pekerjanya.
Beberapa wilayah yang selalu menjadi tempat produksi lini fashion dengan konsep fast fashion adalah negara-negara berkembang dengan tingkat kesejahteraan dibawah rata-rata. Tidak hanya itu, beberapa pekerja yang digunakan bahkan sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak dalam usia produktif, yang sebenarnya sangat disayangkan karena pada usia tersebut, anak-anak seharusnya lebih produktif daripada mengerjakan pekerjaan monoton selama lebih dari 12jam per hari dan diberi upah yang sangat tidak manusiawi. Belum lagi paparan zat kimia secara langsung pada tubuh mereka.
Dari segi lingkungan, diketahui untuk membuat 1kg katun yang dibutuhkan dalam pembuatan tekstil, diperlukan setidaknya 20.000liter air. Belum lagi penggunaan zat kimia polutan dalam proses pewarnaan dan sebagainya. Dan yang lebih mencengangkan, kita setiap tahun nya tidak sadar bahwa selain sampah yang kita hasilkan dari sektor makanan dan minuman, ternyata pakaian bekas yang kita miliki turut serta menyumbang sampah baru yang tentunya tidak sedikit.
Beberapa teman yang saya ajak diskusi perihal masalah ini, respon nya tentu beragam. sebagian besar dari kita tentu berpikir "ah kan saya ga terlalu ngikutin fashion, baju saya cuma kaos-kaos aja kok".
tapi kalau kita tarik lagi ke belakang, di lemari baju kita sebenernya punya kaos berapa pcs sih? 2,5,10? belum lagi tangan panjang atau pendek, bahan tipis atau tebal, yang kusam atau masih baru. dari jumlah tersebut, berapa banyak sih yang sesungguhnya kita pakai sehari-hari? berapa banyak pakaian yang kita beli hanya karena sale tapi ternyata ga cocok sama kita, atau bahan nya ternyata gampang sobek, gerah. apakah hanya 1 pakaian?. hasilnya kalau untuk saya pribadi yang koleksi bajunya "hanya" berwarna coklat, hitam, putih dan abu-abu ternyata bikin kaget.
Bukan hanya sekedar baju itu animal cruel free, atau bermerek dagang terkemuka, tapi sebagian besar bahannya bahkan tidak nyaman dipakai bahkan mudah sekali rusak sehingga lama waktu pemakaian pakaian tersebut tergolong cukup singkat.
Beberapa pekan lalu saya sempat mengadakan QnA di instagram saya mengenai fast fashion ini. Ada yang menarik perhatian saya salah satunya pertanyaan "ini bisa mematikan fashion designer atau product designer dalam berkarya dong", atau "Yah mau bagaimana lagi, daripada pabriknya tutup dan orang-orang menjadi pengangguran dan dapat membuat tingkat kriminal naik"
Tentunya diharapkan dengan adanya kita sebagai kaum awam yang sudah melek tentang side effect nya fast fashion, para product designer/fashion designer (atau produsen lini fashion utamanya) akan tergerak mengikuti pasar konsumen yang sudah mulai beralih ke product yang lebih sustainable/ethical fashion. Jadi bukan serta merta pabriknya harus ditutup yah, hehe. tapi lebih ke merubah konsep yang sudah ada menjadi konsep baru yang lebih reliable.
Paling tidak yang kita butuhkan sekarang adalah "melek" dulu aja bahwa konsep produksi seperti ini yang mau tidak mau, ada kita yang turut andil menikmatinya. Mau sampai kapan? itu tergantung kita sebagai konsumen menyikapinya.
akhir kata, jika kita tidak dapat berbuat lebih untuk mengubah dunia, paling tidak lakukan hal sederhana untuk mengubah diri kita.
Spread love, not hate 😊
Setujuuuu! Karena pun sebenarnya kita (sbg pembeli) punya andil dlm hal ini.. terimakasih sudah berbagi mbaakk
ReplyDeletesetuju.. mulailah dari diri kita sendiri :)
ReplyDeleteKerenn.
ReplyDeleteBaru mikir kesana hehe
Biasanya sih kalo mau beli-beli cuma mikir, dirumah jg masih ada, masih bagus, ntar kalo dihisab bisa mempertanggungjawabkan atau tdk.
Jazakillah Mba
Mba, mohon penjelasannya, sku apa ya?
ReplyDeleteNice sharing mba. Makasi udh buat "melek" 😣
ReplyDeleteIya mba, suka mikir bajunya banyak padahal udah sering coba buat mengurangi dan menahan godaan untuk beli baju
ReplyDeleteMasyaAllah, nice sharing mba
ReplyDeleteWalaupun awan dengan masalah fashion dan perindustrian gini, tapi setelah baca tulisan ini aku mulai sadar sebegitu hebat dampaknya ya,semoga bisa mulai merubah kebiasaan konsumtif, nice sharing mba
ReplyDeletewaduh, ternyata.... begitu ya..?? tengkyu sharingnya mbak..
ReplyDeletebarakallah...berubah untuk kebaikan...mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang 😊🙏
ReplyDelete🙏🙏😍😍
ReplyDeleteWaah baru tau soal fast fashion ini, bener juga ya... nice sharing :)
ReplyDeleteWaaw, ga ngeh klo efeknya separah itu ya, makasih sharing nya mba
ReplyDeleteAstagfirullah.. sudah melek dan sadar masalah dampak baju buat lingkungan dan akibat dari baju yang bertumpuk akan di hisab tapi setiap mau pergi tetep bilangnya 'ga punya baju' hehehe #dasaraku
ReplyDeleteYayyyy
ReplyDeleteAstaghfirullah..Selain berdampak buat lingkungan, baju2 yg banyak dibeli dan menumpuk di lemari itu akan dihisab kelak..
ReplyDeleteNice artikel mba..trimakasih sharing nya😍
bener juga mba, tengkyu atas sharingnya. Karena memang industri fashion itu tergolong kurang sustain dari segi lingkungan, semoga ada solusi untuk kelestarian bumi ya. Aku pun pernah bekerja di manufacture dan sangat menyayangkan sebagian dari wanita dan anak-anak menghabiskan waktunya untuk pekerjaan monoton di pabrik
ReplyDeleteMasyaAllah makasih sharingnya teh
ReplyDeleteTerima kasih atas info ny mba...
ReplyDeleteHarus mulai mikir2 dulu sebelum berbelanja baju.
Masya Allah..
ReplyDeleteTabrakallahu sharingnya jadi self-reminder buat aku
Industri ini kan ngikut konsumen ya mba. Jadi kita sebagai konsumen punya peranan juga dlm merubah pasar. Kalo konsumen ga mau dg konsep fast fashion, perusahaan pasti juga akan menyesuaikan.
ReplyDeleteHem bener juga mba, kalau dari arah hilir emang kita sebagai konsumen yang bisa mengaturnya, tapi kalau dari arah hulu, kebijakan pemerintah untuk memberikan kebijakan tertentu, selain itu juga karena arus iklan yang menggiurkan emang harus bisa dikontrol.. jadi semua pihak bekerja sama.. begitu menurut saya
ReplyDelete